“Seorang Istri adalah replika suami. Sepotong rusuk yang kemudian menjadi bagian dirinya.”
Bukannya aku ingin meragukan fahaman itu. Hanya saja, susah sekali
bagiku menemukan buktinya pada diri dan pasanganku. Kami sungguh sangat
jauh berbeda. Seperti sepotong bulan yang bercahaya redup dengan si
gagah mentari yang selalu bersinar buas.
Istriku manja, aku
berwatak keras typical orang timur. Istriku pemalu, aku? Hmm,belum ada
satu halpun yang berhasil membuatku merasa gede rasa. Istriku cepat
menyerah, tapi aku adalah orang yang sangat optimis, kata orang-orang.
Istriku sangat lamban tapi aku suka yang ekspres. Istriku ceriwis namun
kata-kataku mahal, istilah istriku.
Istriku suka menghabiskan
waktu di rumah sementara aku suka menghabiskan waktu dengan mereka di
luar. Istriku suka membaca, aku suka menonton. Dan masih banyak lagi
perbedaan-bedaan yang ada pada kami. Rasanya dua-duanya hal yang sama
dari kami adalah mempunyai misi menjadikan anak-anak kami hafizd dan
hafidzah Al-Qur’an Karim. Satunya lagi, kami sama-sama penggila
lagu-lagu lawas dari penyanyi western.
Namun perbedaan itu
tidak lantas membuat kami sering berselisih faham. Aku sudah membiasakan
diri menerima ‘keistimewaan-keistimewaan’ istriku yang jauh berbeda
dariku, karena aku sudah lama tahu bahwa perbedaan itu adalah rahmat.
Hingga suatu saat istriku berkata, “Aku ingin jadi penulis.”
Saat itulah aku mulai merasa sedikit terusik.. “Apa yang ingin Kau tulis? Semuanya sudah ditulis orang.” Ujarku padanya.
“Menuliskan sesuatu yang bermanfaat tentunya.” Jawabnya seolah tak menyadari bahwa aku sedang berusaha melarangnya.
“Bermanfaat seperti apa? Kau ingin menuliskan isi Al-Qur’an dan
memindahkan hokum-hukum Allah dalam lembaran-lembaran bukumu? Tidakkah
engkau sadar, ketika seseorang berusaha menuliskan kembali isi
Al-Qur’an, tanpa disadarinya, ia membuat orang meninggalkan Al-Qur’an.
Semua orang hari ini mencari jawaban tentang sebuah hukum dari buku atau
dari internet, bukan dari sumbernya hukum yang Allah turunkan dari
langit. Apa Al-Qur’an itu kurang sempurna, sampai-sampai orang harus
cari kitab lain untuk belajar tentang agama.” Aku berkata panjang lebar
dengan mode suara tinggi yang sebenarnnya tak kurencanakan.
Istriku terlihat panik mendengar rentetan panjang kalimat-kalimat yang
keluar dari mulutku. Tapi dia tidak menyambung lagi. Paling tidak, untuk
saat itu. Namun dari percakapan-percakapan kami lain waktu ,dia selalu
berusaha menyisipkan kampanye tersirat tentang keinginannya untuk
menulis. Dari itu aku menarik kesimpulan bahwa istriku hanya ingin
berbagi pengalaman-pengalamannnya sebagai ibu rumah tangga kepada
ibu-ibu rumah tangga lain yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
“Mungkin ada pengalaman kita yang bisa menjadi inspirasi untuk membantu
orang lain.” Begitu kira-kira inti dari kampanyenya.
Tapi aku masih tetap TIDAk setuju. Tidak sedikitpun.
Menurutku menulis itu buang-buang waktu dan buang-buang tenaga.
Kerjaannya di rumah sudah cukup banyak, kenapa harus menambah lagi
dengan kegiatan menulis yang menghabiskan banyak waktu? Itu lagha.
Berbuat sia-sia. Lebih bagus dia mengaji beberapa juz perhari atau
menghafal bersama anak-anak ketika ada waktu luang dibanding harus
membuang-buang waktu di depan laptop. Tak ada pahalanya, menurutku.
Hingga suatu saat, sesuatu terjadi. Sebuah kesalah-fahaman membawaku
jauh darinya. Sebuah khilaf yang terjadi, memaksaku pergi dan tak berani
kembali. Aku merasa telah membuatnya terluka dengan luka terdalam dan
aku yakin dia takkan pernah memaafkanku. Akupun kemudian berusaha
menyepi sejenak. Memutuskan untuk tidak menghubungi dan tidak bisa
dihubungi hingga aku berhasil mengembalikan keyakinan diri bahwa dia
akan memaafkanku.
Ketika perasaanku telah sedikit pulih dan
kepercayaan diriku sedikit kembali, aku membuka kembali memori hapeku
dan mencoba menekan nomor kontaknya. Namun hingga kali ke sembilan aku
mencoba, jawaban yang terdengar dari seberang sana tetap sama, “Nomor
yang anda hubungi tidak terdaftar. Silahkan periksa kembali nomor tujuan
Anda.”
Agaknya harapanku yang telah sedikit tersambung
tertarik putus kembali. Aku kebingungan bagaimana harus menghubunginya.
Haruskah aku pulang atau datang ke rumah orang tuanya untuk menjemput?
Aku tak berani memutuskan jawabannya. Rasa optimisku kini dikalahkan
oleh perasaan bersalah yang terlalu besar.
Yang terpaksa kulakukan
kemudian adalah mencoba mengiriminya surel, walau kutahu semenjak
tawaran jejaring sosial bertaburan bagai kacang goring, dia hampir tak
pernah lagi membuka emailnya.
Sementara untuk mengiriminya
pesan dengan akun-akun baru yang sedang mewabah itu, aku tak bisa karena
aku tak punya. Aku tak merasa memerlukan akun-akun di sosial media
karena masih bisa menghubungi rekan-rekanku melalui telpon. Mempunyai
segala macam akun di segala jaringan membuatku merasa seperti A.B.G
saja. Oleh itu, aku memilih untuk tak punya.
Setelah
mengiriminya surat elektrik, aku kemudian membuka-buka google dan dengan
iseng mengetikkan namaku tempat pencariannya – Darda-. Aku tahu yang
akan keluar disana pastinya nama seorang perawi hadits bernama Abu Darda
dan beberapa orang dari luar Indonesia mungkin, karena nama itu jarang
dipakai di negara ini.
Penelusuran googleku terhenti di sebuah link berjudul. ‘Kupanggil dia Darda-ku’.
Akupun membuka link tersebut dan menemukan sebuah puisi dengan judul
itu di blog seseorg. Aku membaca puisi itu sampai habis dengan hati yang
berdegup. Puisi yang indah yang seolah ditulis untukku.
Kemudian aku membaca postingan-postingan lain di blog itu dan menemukan
beberapa puisi lain yang sangat akrab denganku. Bukan karena aku pernah
mendengarnya. Bukan.. Tapi karena aku pernah mengalami semua hal yang
tertulis dalam puisi itu.
Ah. Mungkin ini hanya kebetulan saja, kata hatiku.
Kemudian aku mebaca lagi sebuah cerita pendek yang latarnya sangat
jelas, yang semua kejadiannya berlaku di sebuah tempat yang tak asing
bagiku. Ya itu adalah di rumahku.. Setap detail yang dituliskan di dalam
cerita itu, seperti warna gorden dan letak vas bunga kesayangan
istriku, persis sama dengan letakk semua barang di rumahku.. Oh Tuhan!
Ini blog istriku, aku yakin itu. Walaupun dia tak memakai nama aslinya,
tapi aku yakin itu dia. Kata-kata yang pernah dia ucapkan kepadaku dan
kata-kata yang pernah kuucapkan kepadanya menjadi kutipan favorit dalam
ceritanya.
Dan dari tulisan-tulisan tersebut, aku tau bahwa dia
telah memafkanku. Dia sedang sangat merinduiku seperti juga aku yang
sedang merinduinya lebih dari rindu seekor pungguk kepada sang purnama.
Aku telah siap pulang sekarang. Tulisannya telah memberikanku sebuah
jawaban yang sempurna, bahwa aku sedang ditungguinya. Bahwa dia tak
pernah benar-benar tahu bagaimana harus membenciku. Dan setelah saat
itu, semua persepsiku tentang menulis berubah sudah.